SEARCH

Memuat...

Senin, 03 September 2012

HARI SUCI - AGAMA HINDU


·         Pengertian Hari Suci


Hari suci keagamaan sering disebut hari raya keagamaan atau hari-hari besar keagamaan. Hari Raya adalah hari yang diperingati atau diistimewakan, karena berdasarkan keyakinan hari-hari itu mempunyai makna atau fungsi yang amat penting bagi kehidupan seseorang baik karena pengaruhnya maupun nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Sehingga dirasakan untuk perlu untuk diingat dan diperingati selalu.
Dengan merayakan atau memperingati hari “Raya (Suci)” tersebut baik yang telah ditentukan atau dinyatakan dalam kitab suci, atau menurut kepercayaan tradisionil hari tersebut akan memberi pengaruh terhadap dirinya sehingga dirasakan sangat berkewajiban untuk diperingati.

·         Hakekat Hari Suci

                     1.            Sebagai Alat Meningkatkan Sradha Bakti

Hari suci umat Hindu sangat diistimewakan dan dikeramatkan kehadirannya. Nama hari suci oleh umat Hindu di Bali lebih dikenal dengan nama “Rerahinan”. Setiap rerahinan seluruh umat Hindu menyibukan diri melakukan kegiatan keagamaan.
Semua itu diatur sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah aturan atau banten sebagai sarana Sradha dan Bhakti pada hari suci. Suasana perayaan hari suci atau rerahinan itu sangat baik apabila melalui sikap “Asuci Laksana” yang artinya mengkondisikan suasana diri yang tenang, hening, dan suci serta eling kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Asuci Laksana dapat dilakukan melalui hal berikut :
a.       Menembangkan nyanyian suci, kidung, kawitan, sekar alit,
b.      Mendengarkan Dharma Tula dan Dharma Wacana,
c.       Berpakaian sembahyang sesuai daerah masing-masing,
d.      Megegambelan gender, gong, bleanjur, dan lainya.


                     2.            Sebagai Alat Komunikasi Sosial

Hari Suci sebagai alat komunikasi sosial dapat berfungsi sebagai peningkat hubungan dengan orang lain, baik kekerabatan, persaudaraan dan dalam kemasyarakatan.
Pada perayaan hari suci yang lebih besar, semua umat Hindu melakukan Sradha Bhakti ke tempat-tempat suci. Di tempat suci itu kita bisa bertemu dengan banyak umat Hindu. Kita bisa saling mengenal sebelum persembahyangan dimulai, bisa diskusi sastra (Dharma Tula) dan dapat mendengan Dharma Wacana. Sedangkan begitu acara persembahyangan dimulai, semua umat tertib dan hidmat melakukan persembahyangan.

                     3.            Hari Suci Sebagai Sarana Pendidikan Umat

Sebagai umat Hindu, hari suci keagamaan selain dikeramatkan, juga dimanfaatkan sebagai media pendidikan secara langsung ataupun tidak langsung. Dalam pengertian :
o    Secara Langsung, artinya seluruh umat diberikan ingatan-ingatan lewat Dharma Tula dan Dharma Wacana. Isi Dharma Tula dan Dharma Wacana itu adalah hal-hal yang menyangkut tata cara pelaksanaan dan makna hari suci yang dirayakan.
o    Secara tidak langsung, melalui merayakan hari suci keagamaan, umat mendapat imbas atau aura kesucian dalam berpikir, berkata dan berbuat.

·         Pengelompokan dan Jenis-Jenis Hari Suci

Umat Hindu mempunyai banyak tonggak yang mengingatkan untuk selalu memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasi-Nya. Tonggak-tonggak yang dimaksud adalah semua jenis hari suci. Secara garis besar pedoman atau patokan yang dipakai untuk memperingati hari raya keagamaan bagi umat Hindu dibedakan menjadi dua, yaitu :

                     1.            Hari Suci Berdasarkan Sasih
Hari suci yang dilaksanakan setiap setahun sekali. Jenis hari suci berdasarkan sasih mendapat pengaruh langsung dari India yang pelaksanaannya disesuaika dengan keadaan alam di Indonesia. Adapun jenis hari raya berdasarkan sasih, yaitu :
o   Hari Raya Siwa Ratri yang jatuh pada purwaning tilem sasih kapitu.
o   Hari Raya Nyepi yang juga disebut Hari Raya Tahun Baru Saka.
Kedua hari suci atau hari raya ini sangat khusus atau spesial perayaannya oleh Umat Hindu di Indonesia sebab mengandung nilai spiritual yang sangat tinggi.

                     2.            Hari Suci Berdasarkan Pawukon atau Wuku
Secara khusus ada lag hari raya keagamaan yang berdasarkan pawukon (Wuku) yang dibedakan menjadi empat kelompok besar diantaranya :
a.       Buda Kliwon (Buda + Kliwon)
b.      Tumpek (Saniscara + Kliwon)
c.       Buda Cemeng atau Buda Wage(Buda + Wage)
d.      Anggara Kasih (Angara + Kliwon)
Masing-masing kelompok terdiri dari enam hari raya. Jadi, dari 30 pawukon yang ada terdapat sebanyak 25 jenis hari suci termasuk Hari Raya Saraswati.

No
Buda Kliwon
Tumpek
Buda Cemeng
Anggara Kasih
-           
1
Sinta
Landep
Ukir
Kulantir
Tolu
2
Gumbreg
Wariga
Warigadean
Julungwangi
Sungsang
3
Dungulan
Kuningan
Langkir
Medangsia
Pujut
4
Pahang
Kerulut
Merakih
Tambir
Medangkungan
5
Matal
Uye
Menail
Prangbakat
Bala
6
Ugu
Wayang
Klawu
Dukut
Watugunung

·         Tujuan Pelaksanaan Hari Suci

Suatu hari suci perlu dilaksanakan dengan Sradha dan Bakti, dengan penuh kepercayaan, keseriusan, kebahagian yang mencangkup didalamnya. Oleh karena itu kesadaran spiritual manusia harus dilatih sejak kecil, dengan jalan sebagai berikut :
                     1.            Shrawana, ialah membiasakan anak-anak untuk ikut aktif dalam melaksanakan hari raya, sembahyang Tri Sandhya, sembahyang Purnama Tilem, dan semahyang pada hari besar keagamaan, seperti pada waktu Galungan, Kuningan, Pagerwesi, dan sebagainya.
                     2.            Kirtana, ialah mengajarkan kepada anak-anak tentang cara dan makna berdoa serta puja stawa kepada Sang Hyang Widhi Wasa, dan untuk mencapai tujuan ini haruslah adanya didikan oleh guru rupaka dan guru penajian bagi anak itu.
Jadi, secara singkat dapat dinyatakan tujuan dari pelaksanaan hari raya atau hari suci itu, antara lain yaitu :
-          Untuk menyatakan Bhakti kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa, beserta manifestasi-Nya.
-          Sebagai usaha untuk membayar hutang kehadapan Tuhan.
-          Untuk mendapat ketentraman lahir dan batin.
-          Menjaga kelestarian agama dan budaya yang diwariskan oleh leluhur kita.
-          Untuk memantapkan pelaksanaan ajaran agama.
-          Sebagai ucapan syukur kehadapan Sang Hyang Widhi.

·         Pelaksanaan Hari Suci Dalam Kehidupan Masyarakat

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya yaitu, pada hakikat hari suci, bahwa dalam hari suci tersebut umat patut melakukan Asuci Laksana. Pelaksanaan hari suci tersebut merupakan upaya umat Hindu untuk meningkatkan Sradha dan Bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta semua manifestasi-Nya. Pelaksanaan hari suci itu termasuk secara Naimitika Karma. Di samping Naimitika Karma, diwajibka pula dengan Nitya Karma tiap-tiap hari melalui puja Tri Shandya dan Yadnya sesa serta mewujudkan sikap saling asah, asih, asuh di masyarakat.

·         Pengaruh Hari Suci Keagamaan terhadap Sikap Mental

Kalau kita renungkan, sesungguhnya luar biasa orang-orang suci kita zaman dahulu. Karena beliaulah kita dapat mewarisi budaya dan agama serta bentuk-bentuk pelaksanaan hari suci yang tidak pernah pudar pelaksanaannya. Terlebih lagi di zaman sekarang ini umat Hindu di Bali sangat menyadari dan meyakini adanya.
Dengan melaksanakasanakan hari suci ini dengan hikmad dan memiliki rasa sadar dan keyakinan, menunjukan bahwa umat hindu memiliki Sradha dan Bhakti dari seikap mentalnya.

·         Pengaruh Hari Suci Keagamaan terhadap Peningkatan Sradha dan Bakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa

Umat Hindu wajib hukumnya untuk merayakan hari suci sesuai dengan ketentuan yang ada. Dengan selalu kita merayakan hari suci sekaligus wujud bhakti kepada Beliau, sehingga rasa eling dapat dipertahankan di dalam jiwa. Hal ini akan menuntun kita pada perbuatan benar atau dharma.
Pengaruh dari hari raya suci keagamaan terhadap peningkatan sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi akan dapat mewujudkan ketentraman, kemakmuran dan kesejahtraan umat manusia di dunia ini. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Read more: Cara Membuat Navigasi Page Number Di Blogspot ~ Belajar Nge-Blog http://kumpulan-tutorial86.blogspot.com/2011/06/cara-membuat-navigasi-page-number-di.html#ixzz2A36jMdSO Under Creative Commons License: Attribution Chrome Pointer